Jokowi Perintahkan Investigasi Kematian Dua Mahasiswa Kendari

  • Whatsapp
banner 468x60

Mediacenter, Jakarta – Presiden Joko Widodo menyatakan telah memerintahkan kepolisian untuk melakukan investigasi atas kematian dua mahasiswa Kendari saat berunjuk rasa di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9).

Dua mahasiswa yang meninggal dunia dalam unjuk rasa itu adalah Muhammad Yusuf Qardawi dan Himawan Randi. Keduanya berstatus mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara.

“Saya juga sudah sejak awal ulangi ke Kapolri agar jajarannya tidak represif. Saya perintahkan dilakukan investigasi dan jajarannya, karena Kapolri bilang tidak ada apapun dalam demo ini bawa senjata. Jadi, akan ada investigasi lebih lanjut,” ujar Jokowi di Istana Kepresidenan, Jumat (27/9).

Jokowi dalam kesempatan itu juga menyampaikan duka cita kepada keluarga korban Yusuf Qardawi dan Randi. Dia berdoa agar orang tua korban diberikan ketabahan dan keikhlasan atas kepergian anaknya.

“Semoga yang diperjuangkan keduanya jadi kebaikan bangsa ini dan mendapat tempat yang baik. Mulia di sisi-Nya,” ujar Jokowi.

Presiden ditanya kemungkinan polisi tidak mematuhi perintah untuk tidak melakukan tindakan represif terhadap mahasiswa yang berunjuk rasa. Dia bilang, akan menginvestigasi soal ini.

“Ini kan menyangkut ribuan personel dan ini juga sampai sekarang belum tahu, sebelum investigasi,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet). Ia meminta kepolisian mengusut peristiwa tewasnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), salah satunya kena tembak. Bamsoet mengatakan pengusutan peristiwa penembakan Randi harus dilakukan hingga pelakunya terungkap.

“Saya atas nama pimpinan DPR meminta petugas keamanan, kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa ini dan mengusut tuntas siapa pelakunya,” kata Bamsoet di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (27/9/2019).

Bamsoet meminta kepolisian objektif dalam mengusut peristiwa yang mengakibatkan mahasiswa tewas. Politikus Partai Golkar itu juga mengimbau agar polisi bijaksana dalam menangani aksi demonstrasi.

“Kalau memang pelakunya petugas keamanan, maka harus dihukum yang tegas, karena penanganan penyampaian aspirasi itu harus mengedepankan langkah-langkah yang bijaksana,” jelasnya.

Bamsoet prihatin aksi demonstrasi di Kendari memakan korban jiwa. Dia mengucapkan belasungkawa untuk pihak keluarga dua mahasiswa tersebut.

“Tentu jatuhnya korban dua yang meninggal, kami dari pimpinan DPR menyampaikan rasa duka yang mendalam pada keluarga korban sekaligus prihatin,” ucap Bamsoet.

Demonstrasi mahasiswa di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara di Kendari mengakibatkan Randi dan Qardawi tewas. Randy korban pertama dalam aksi ini.

Berdasarkan autopsi oleh tim dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari, Randy tewas tertembak peluru di bagian ketiak kiri bagian bawah menembus hingga ke kanan. Peluru menyebabkan terjadi luka di paru-paru dan kantong jantung.

Randi tewas kemarin sore. Danrem 143 Haluoleo Kolonel Inf Yustinus Nono Yulianto menyatakan Randi sudah meninggal saat dibawa ke Rumah Sakit Korem.

Sementara Qardawi yang sempat mengalami koma, tewas pagi tadi. Hasil autopsinya, Qardawi (19) tewas karena mengalami pendarahan hebat akibat benturan benda tumpul di bagian kepala. (fra/wis)

Jokowi Didesak Copot Wiranto

Wakil Ketua Komisi III DPR, Erma Ranik mendesak Presiden Joko Widodo mencopot Wiranto dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) menyusul tewasnya dua mahasiswa dari Universitas Haluoleo Kendari.

Randi (21) dan Muh Yusuf Kardawi (19) adalah dua mahasiswa yang meninggal dunia usai terlibat bentrok antara mahasiswa dengan polisi di gedung DPRD Sulawesi Tenggara saat unjuk rasa menolak kebijakan pemerintah dan DPR RI.

Erma menganggap Wiranto gagal dalam melakukan antisipasi keamanan sehingga menimbulkan korban jiwa.

“Copot Menkopolhukam Wiranto karena terbukti gagal dalam melakukan antisipasi terhadap persoalan politik dan keamanan yang menjadi domain wilayah kerjanya,” kata Erma dalam keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (27/9).

Tak hanya itu, Erma turut meminta kepada Kapolri, Jendral Tito Karnavian untuk mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara, Brigjen Iriyanto dari jabatannya. Ia menganggap Irianto tak bersikap profesional salam menjalankan tugasnya sehingga menimbulkan korban jiwa.

“Copot Kapolda Sulawesi Tenggara karena terbukti tidak profesional dalam menangani aksi demonstrasi,” tambahnya.

Selain itu, Erma meminta agar Kapolri untuk mengusut dengan tuntas insiden tersebut. Ia menilai kedua mahasiswa itu tak akan meninggal dunia bila polisi hanya menembakkan jenis peluru karet.

Ia menyarankan agar kepolisian tak menggunakan tindakan represif dalam menangani aksi demonstrasi yang dilakukan masyarakat. Hal tersebut bertujuan agar tak menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak lagi.

“Siapa aparat yang terlibat. peluru apa yang telah membunuh adik adik mahasiswa?” kata dia. (Mc/cnn indonesia)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published.